Langsung ke konten utama
IMPIAN AYAH


Ketika membaca artikel ini http://www,indrayanifauzan.com/2015/08/takdir-selalu-baik.html, mengingatkan saya semasa kecil. Ketika masa liburan datang, terkadang ayah mengajak anak perempuannya ini ke kantor. Anak perempuan ini selalu terpukau dengan semua peralatan kantor yang ada. Dari pulpen aneka warna, pensil dengan mesin serutnya, selotip yang menempel pada tape dispensernya, stapler dengan nietjes (isinya) dan CTR (alat pelepas jepitan stapler), corection pen, spidol warna-warni dan mesin ketik dengan corection papernya. 
Setelah selesai dikantor dengan rencana schedule kerja harian dipagi hari, ayah mulai turun kelapangan, mendelegasikan pekerjaan kepada masing-masing divisi. Dilapangan, kekaguman berganti dengan semua peralatan berat yang ada, truck, excavator, bulldozer dan mesin penggilas. Semua alat berat dapat dijumpai pada pembuatan jalan untuk menyiapkan titik lokasi reaktifasi sumur minyak bumi yang sudah mati. 
Tarakan adalah pulau dengan banyak sumur minyak bumi sejak zaman Belanda. Banyak sumur minyak bumi yang sudah mati, tapi masih memiliki simpanan minyak bumi. Sama halnya dengan sumur air, selalu adaperawatan untuk sumur-sumur minyak yang setelah beberapa waktu terpakaiakan terisi oleh lumpur dan pasir. Diperlukan pengeboran kembali agar sumur-sumur tersebut dapat aktif kembali memproduksi minyak bumi.
  
Pada tahap pengeboran, kekaguman berganti pada peralatan rig untuk proses pengeboran dan reaktifasi sumur-sumur minyak bumi yang sudah lama mati. Dan setelah tahap pengeboran, kekaguman berganti pada peralatan pompa minyak berupa pompa angguk (sucker rod pump). Pompa minyak jenis ini banyak digunakan karena harganya yang lumayan murah. Terkadang disore hari, ayah membawa kami keliling kebeberapa lokasi pemompaan minyak untuk pengecekan produksi minyak perhari. 
Pada masa yang lain, ayah juga pernah diberi tanggung jawab pada proses pengolahan air bersih. Disini, kekaguman berganti pada rumah pompa dengan 5 pompa sebesar mobil atoz, hasil peninggalan jaman Belanda. Dibelakang rumah pompa terdapat aliran sungai besar yang diarahkan ke penampungan diatas bukit. 
Ada beberapa kolam besar diatas bukit. Dikolam-kolam tersebut, air menjalani proses treatment.
Proses tersebut meliputi tahap koagulasi, flokulasi, pengendapan dan penyaringan. Pada tahap Koagulasi, air diberi tawas untuk proses penjernihan. Air yang kotor/keruh mengandung partikel kotoran yang sulit mengendap, Tawas berfungsi memecah partikel. . Selesai ditahap koagulasi, air yang partikel kotorannya sudah terpecah, diperlakukan dengan adukan lambat untuk menyatukan partikel-partikel  kecil tersebut menjadi partikel berukuran besar yang dapat mengendap. Pada tahap selanjutnya, air disaring melewati media penyaring yang disusun dari bahan-bahan berupa pasir dan kerikil silica. Proses ini ditujukan untuk menghilangkan bahan-bahan terlarut dan tidak terlarut.
Sebelum didistribusikan, kualitas air ditingkatkan dengan cara menambahkan bubuk karbon aktif dan chlorine. Proses pengecekan kualitas air adalah saat-saat yang membuat tercengang dengan banyaknya peralatan kimia (colour detector). Peralatan tersebut berada dalam satu box, terdiri dari banyak cairan dengan banyak warna berbeda. 
Didivisi ini, tengah malampun ayah selalu siap menerima panggilan darurat. Pipa bocor, pasokan air dipenampungan yang tidak sesuai standart dan lain-lain. Dimalam seperti itu ayah suka membangunkanku dan tanpa merasa keberatan, ku selalu menemaninya. Saat ayah harus turun memerikasa pipa dan pompa, ayah biasa masuk kerumah pompa yang gelap untuk memeriksa pompa-pompanya.  Aku sendiri didalam mobil. Lantunan surat-surat pendek Al-Quran tidak pernah lepas dari mulutku. Malamnya sangat menyeramkan bagiku. Bayangkan saja berada didalam mobil sendiri, ditengah hutan dengan pencahayaan mobil satu-satunya yang menyorot kerumah pompa. Sampai sekarang pun aku tidak tahu kenapa aku tidak pernah merengek karena takut dan ikut turun bersama ayah. Tidak pernah satu katapun terucap, tapi hatiku juga tidak pernah merasa keberatan sedikitpun.
Bukan hanya itu, suatu saat menjelang malam, ayah mendapat panggilan darurat. Bulldozer yang digunakan dilapangan terbenam dalam tanah liat yang lunak. Para pekerja sudah mengusahakan pembebasan bulldozer sejak waktu ashar. Hingga menjelang malam, mereka putus asa dan terpaksa meminta pertolongan. Saat kami tiba, lampu mobil adalah satu-satunya penerangan didalam hutan yang akan dibuat jalan baru. Ayah bukan tipe orang yang banyak bicara dan asal perintah. Turun dari mobil, ayah menuju bulldozer dan mempelajarinya beberapa saat, kemudian ayah berdiri dan mencari sesuatu. Ayah mengambil kayu dijalan yang digunakan sebagai bantuan pembuatan jalan. Kayu digunakan sebagai pengungkit, bersamaan dengan itu mesin bulldozer dinyalakan, rantai pengikat bulldozer ke truck juga mulai ditarik. Bulldozer diperintahkan mundur perlahan dengan bantuan tarikan dari truck, harapannya bulldozer bisa naik dan berjalan diatas kayu. Setelah dua kali mencoba, usaha ketiga membuahkan hasil dan hanya memakan waktu kurang dari setengah jam.
Pada masa yang lain, ayah juga pernah ditugaskan didivisi konstruksi. Disini ayah harus belajar banyak. Ayah memang hanya seorang pria tamatan SMP yang harus menghentikan sekolah karena tuntutan menjadi tulang punggung keluarga bagi ibu dan kesepuluh adiknya. Modal ayah adalah bahasa Inggris. 
Perusahaan tempat ayah bekerja adalah perusahaan minyak internasional yang para atasannya mayoritas adalah orang-orang bule. Hanya sebagian kecil dari para pekerja lokal yang menguasai bahasa Inggris walaupun memiliki ijazah SMA ataupun bergelar Insinyur. Karena masalah bahasa tersebut, ayah dapat memiliki kesempatan belajar lebih banyak diperusahaan ini. Para bos bule hanya memberi perintah dan menyediakan buku-buku literatur bahasa Inggris mengenai pekerjaan yang harus dilakukan. Pekerjaan tersebut diantaranya adalah pembuatan pondasi mesin, lantai kerja beberapa peralatan besar sampai pengukuran lapangan. Saat itu aku masih berada dibangku sekolah SMP. Semua buku dibawa ayah pulang, dipelajari dan didiskusikan denganku. Karena itu aku tidak merasa asing dengan pelajaran pondasi dinamis, ilmu ukur tanah dengan sudut-sudut horizontal dan vertikalnya untuk menggambarkan lokasi pengukuran. Tapi saat itu sampai lulus SMA aku tidak pernah tahu apa itu teknik sipil. Teknik Sipil adalah pilihan ayah dan impian ayah. 
Bersyukurlah aku bukan tipe orang pemilih, aku lebih cenderung sebagai penikmat pengetahuan apapun yang disajikan dihadapanku. Semuanya membuatku penasaran. Semuanya membuatku tertarik tanpa peduli siapa yang duduk disamping bangku atau siapa dosennya. 
Hingga sampai aku menjadi dosen, berkaitan dengan pekerjaannya ayah pernah menanyakan bagaimana cara menghitung mix disain untuk mendapatkan mutu beton yang diinginkan. Senang rasanya masa-masa berkutat bersama dibuku yang sama beberapa hari untuk memecahkan angka-angka terulang kembali. 
Sifatku yang gampang tertarik dengan pengetahuan apapun yang disajikan memudahkan diriku untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang dosen untuk sekolah lebih dari sekedar S1dan S2. Dan kewajiban ini adalah salah satu cita-cita ayahku. Semoga jenjang berikut bisa kuraih untuknya.Inilah dunia ayahku.....Inilah impian ayahku.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DANDELION

DANDELION Benihnya kecil,,,,tak kuasa menahan hembusan angin yang meniupnya kemanapun angin berhembus. Benih kecil ini sangat berani menghadapi kehidupan apapun yang akan dijalaninya kedepan. Rasa tawakal kepada sang pencipta membuat keberaniannya semakin besar. Kehidupan yang manis, pahit, asin dan asam sekalipun diterimanya dengan lapang dada. Karena sang pencipta selalu tahu dan selalu memberi apapun yang terbaik bagi ciptaannya. Hal inilah yang membuat diriku belajar menerima amanah pimpinan walau sadar semua itu diluar kemampuanku. Ku mulai menjalankan semua tugas dengan niat yang bersih, walau hasilnya malah memberi kesan tidak adil, menyulitkan jam kerja teman-teman dan lain-lain, Hati merasa sedih karena keinginan menyenangkan semua pihak berbuah pahit. Sekarang adalah saatnya bertawakal akan hasil yang diterima. Berusaha memahami kemarahan dan kekecewaan teman-teman. Tutuplah mulut, bukalah telinga walaupun panas, Ku hanya perlu menjalaninya....tidak perlu memik...

AYO MENULIS

AYO MENULIS Menulis…        Bagi saya , menulis adalah hobby lama Hobby lama yang beberapa tahun ini tak pernah terealisasi Menulis…        Bagi teman saya didunia maya , Bu Iin … Menulis adalah wisata hati Dan dengan menulislah, cara beliau merekatkan diri dan menyelaraskan visi dengan kedua putrinya yang semakin beranjak dewasa dan berada jauh di perantauan. Menulis… Bagi teman saya didunia maya yang lainnya, Pak Wiryanto… Orang yang banyak menulis dan pandai menuangkan gagasannya secara tertulis dapat dipastikan banyak membaca dan melakukan pengamatan terhadap lingkungan sekelilingnya, karena hal itu memang dituntut. Sulit bagi seseorang untuk selalu pempunyai ide-ide segar tanpa membaca, mengamati, atau berdiskusi. Dedi Supriadi (1997) Menulis… Bagi teman saya yang lainnya … Adalah aktifitas positif yang baik bagi kinerja otak untuk mempertahankan daya ingatnya Karena denga...