Aku malu bu…..
Iya
ibu tahu kamu malu.
Aku
malu dengan teman-temanku
Aku
malu dengan guruku
Aku
malu bertemu mereka
Iya ibu tahu kamu sedih
Sepenggal percakapanku dengan
sisulung yang menginjak remaja. Lepas dari Sekolah Dasar, masuk ke dunia baru,
Dunia Sekolah Menengah Pertama.
Dunia baru belum dijamah. Tapi hati
sudah risau dengan hasil akhir di SD yang tidak sesuai harapan. Piala yang
selalu diterima selama lima tahun, yang dengan jatuh bangun dipertahankan.
Sekarang harus berpindah tangan. Pas disaat kau harapkan, kau akan menutup
perpisahan ini dengan hal yang manis. Pas disaat keyakinanmu begitu pastinya.
Namun Alloh berkehendak lain. Hanya
berbeda satu digit dibelakang koma. Alloh menunjukkan rasa sayangnya padamu.
Kenapa?
Alloh ingin
kamu merasakan semua yang ada didunia ini. Ada asin…Ada manis…Ada pahit…Ada
pedas dll. Sehingga saatnya tiba, kau akan menjadi manusia yang sempurna
hatinya.
Alloh
ingin kamu belajar mensyukuri nikmatNya. Belajarlah merasakan apa yang temanmu
rasakan. Teman yang tidak pernah menerima piala, bahkan teman yang harus
menyimpan malu karena tidak tahu harus bagaimana caranya mendapatkan nilai yang
bagus. Alhamdulillah Alloh mudahkan kita dalam hal ini. Alloh berikan kesadaran
mensyukuri nikmatNya, Alloh ingatkan untuk tidak sombong tapi memiliki empati pada
yang sedang dibawah disaat kita sedang diatas.
Alloh
ingin kamu belajar menjaga hati, kata dan perbuatan disaat sedang meraih keberhasilan.
Pengumuman keberhasilan pada orang-orang terdekat yang bersumbangsih dengan doa-doanya
memang diperlukan. Namun hati-hati dengan orang lain yang ikut mendengarkan.
Adakah yang akan merasa kuatir hasilnya akan dibandingkan dengan milikmu.
Dan rasanya
juga tidak perlu menanyakan hasil seseorang didepan umum dengan niat mengukur
tingkat keberhasilan kita. Dikhawatirkan ada virus sombong yang akan menodai
hati ini.
Bukan hanya engkau anakku yang harus
belajar akan peristiwa ini. Ibumu ini juga harus belajar menyikapinya.
Disaat seperti ini, apakah ibu juga
ikut resah akan pandangan orang? Resah akan perasaan tidak berhasil
mengajarkan, mengupayakan dan memotivator ?
Cukuplah engkau yang resah.
Dan cukuplah sampai segini resah itu.
Tidak perlu lagi ibu dan ayah tambahkan resah itu dengan kemarahan kami. Tidak
perlu lagi resah itu kami bumbui dengan mematahkan kepercayaan dirimu. Dengan menyalahkan
dirimu karena segudang alasan. Menyalahkanmu karena keseringan baca komik,
karena selalu menonton TV,karena selalu marah pada ayah, karena tidak menjalankan
perintah ayah, karena hanya belajar disaat guru les datang, karena hanya bisa
duduk dimeja paling lama 5 menit untuk belajar mandiri. Karena menurutmu semua
soal sama saja hanya berbeda bentuk, jadi belajarnya hanya perlu dengan membaca
soal-soal sekilas dan menandai yang ini sudah pernah diselesaikan dengan sekolah
atau guru les guru dll. Cukuplah semua itu hanya sampai dibatas tenggorokan.
Katanya kasih ayah menguatkan, namun
kasih ibu menenangkan. Ibu harus belajar menenangkanmu, membuatmu menerima
semua hasil akhir dengan sikap sportif.
Dimulai dengan mensejajarkan posisi
tubuh, menghilangkan kesan …Dilanjutkan dengan mengecilkan suara dan
mengungkapkan apa yang ibu rasa.
Ibu memulai, disaat semua siswa berbaris
rapi dipodium setelah prosesi pengukuhan kelulusan. Disaat piala yang kau kejar
jatuh ditangan orang lain. Ibu melihat senyum yang kau paksakan. Disaat itu
pula air mata ini tak tertahankan. Bukan malu atau kecewa yang ibu rasa, karena
selama ini, bagi ibu tidak begitu penting berapa nilai yang kau dapatkan atau
berapa peringkatmu. Karena kau sendiri yang akan kebakaran jenggot bila
seseorang melewatimu di term awal. Dan itu memacumu diterm berikut sehingga
diakhir term kau selalu mendapatkan piala yang kau kejar. Selama ini kau selalu
mendapatkan apa yang kau yakini.Kau selalu mendapatkan yang manis, tidak pernah
pedas, pahit atau asin. Air mata ini karena itu….sanggupkah gadis kecilku
menerimanya. Loloskah dia akan ujian ini? Senyum itu yang kau berikan.
Anakku…
Guru kelasmu pernah berpesan:
Gunakan kesempatan yang datang dengan sebaik-baiknya karena
kesempatan itu hanya datang sekali. Dan hasilnya tidak bisa diperbaiki. Tidak
bisa dihapus. Hanya dapat disesali.
Namun jangan kuatir anak-anakku, karena hasil yang mengecewakan
tersebut bukan akhir dari segalanya. Namun awal dari keberhasilan baru yang
akan kita buat.
Rasa malu itu hanya perlu kita jalani…..tidak
perlu kita pikirkan. Tapi perlu kita share kan padaNya.
Ya Alloh …aku malu
Ya Alloh ….maafkan aku bila tidak
mensyukuri nikmatmu, tidak menyadari ada banyak yang iri padaku
Ya Alloh….maafkan aku bila tidak memperhitungkan perasaan
orang lain dalam mengumumkan keberhasilanku.
Ya Alloh….maafkan aku bila ada rasa
sombong disaat mengukur keberhasilanku dengan yang lain.
Ya Alloh.. aku hanyalah manusia biasa
yang beriman kepadaMu, yang menerima semua takdirmu. Namun kumohon padaMu… Ya
Alloh ….bantu aku melewati semua ini….


sippp Ibu. karena anak membutuhkan kita.
BalasHapuskasih ayah menguatkan kasih ibu menenangkan. setujuuu!.
tulisan yang manis, semangat Ibu...
BalasHapusTerimakasih sudah berkunjung dan berkomentar.sy baru belajar bu....tulisannya tdk halus mengalir seperti tulisan keluarga aksan.tapi komentarnya buat semangat baru untuk membuat tulisan berikut.terimakasih...
BalasHapus